Komedi Monolog Atau Stand Up Komedi

Stand-up comedy

Stand-up comedy adalah bentuk hiburan di mana seorang komedian jalankan pertunjukan segera di depan audiens, biasanya di klub atau teater komedi. Komedian menambahkan monolog yang biasanya didasarkan pada pengalaman pribadi, pengamatan, dan komentar sosial, bersama dengan obyek mengakibatkan audiens tertawa.

Stand-up comedy sering dianggap sebagai bentuk seni, dan komedian yang berhasil dihormati dikarenakan kemampuan mereka untuk berinteraksi bersama dengan audiens dan mengakibatkan mereka tertawa. Ini butuh tidak hanya rasa humor yang baik tapi terhitung selagi yang tepat, pengiriman, dan keberadaan panggung yang luar biasa. Banyak komedian terhitung gunakan platform mereka untuk berkomentar mengenai persoalan sosial dan menantang norma-norma masyarakat.

Stand-up comedy telah berkembang pesat di Indonesia dalam beberapa th. terakhir, dan banyak komedian yang berhasil dalam bidang ini. Beberapa komedian stand-up populer di Indonesia pada lain: Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Babe Cabita, Cak Lontong, Dzawin Nur.

Masing-masing dari mereka punyai style dan ciri khasnya sendiri dalam berkomedi. Beberapa fokus pada pengalaman pribadi, selagi yang lain lebih banyak menambahkan komentar sosial dan politik. Mereka terhitung sering tampil di beraneka acara televisi, teater, dan festival komedi di semua Indonesia.

Stand-up comedy Indonesia telah menjadi jadi populer di kalangan penduduk Indonesia dan tetap berkembang pesat. Banyak orang yang lihat dan menikmati pertunjukan stand-up comedy sebagai hiburan yang menyenangkan dan menghibur.

Jika Anda tertarik bersama dengan stand-up comedy, Anda bisa saja ingin lihat beberapa komedian terkenal, menghadiri pertunjukan komedi di daerah Anda, atau bahkan mencoba tampil sendiri di komunitas terbuka. Ingatlah bahwa stand-up comedy bisa menjadi tantangan, tapi bersama dengan latihan, dedikasi, dan rasa humor yang baik, siapa pun bisa menjadi komedian yang sukses.

Populer Sejak 1990-an

Stand up comedy atau style melawak sambil berdiri dan menceritakan sesuatu hal lucu di Indonesia baru berkembang setahun paling akhir ini, padahal dunia stand up telah ada sejak 1990-an.

Salah satu penyebab tidak cukup berkembangnya jenis komedi ini adalah dikarenakan selera humor penduduk Indonesia yang lebih enteng mencerna jenis komedi slapstick (bercanda fisik) ala Opera van Java atau Srimulat.

“Stand up adalah jenis smart comedy. Setahun paling akhir ini penduduk Indonesia telah merasa memadai pintar untuk mengerti stand up. Tapi mainstream (selera beberapa besar masyarakat) tetap slapstick,” kata Ramon Papana, Presiden Indonesia Comedy Club, kepada Beritasatu.com, hari ini.

Baca Juga : Tato Mentawai: Tato Pertama di Dunia

Pria botak berbadan gempal ini adalah sesepuh di dunia stand up comedy Indonesia. Dia merasa menjalani karir sebagai stand up komedian pada 1997.

Ayahanda angkat dari komedian almarhum Ade Namnung ini terhitung merupakan pendiri Comedy Cafe, sebuah cafe yang berkonsepkan komedi.

“Stand up itu perlu dipelajari. Tantangan terberat untuk menjadi stand up, kita perlu banyak membaca dan mempunyai wawasan luas dikarenakan konteks komedi stand up biasanya isu-isu berat layaknya politik, ekonomi, tapi bisa terhitung isu-isu enteng dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Untuk mendorong seni stand up comedy ini, Berita Satu Media Holdings dapat mengadakan acara “Jakfringe” di Lippo Mall Kemang pada 7 hingga 11 November nanti.

Acara ini menampilkan jajaran komedian internasional maupun lokal layaknya komedian Inggris Bill Bailey, komedian senior Malaysia Harith Iskander, komedian Kanada Glenn Wool, komedian lokal Asep Suaji, Dana Pandawa, dan Ernest Prakasa.

Kata “Fringe” itu sendiri bermakna di pinggir. Akar dari festival ini berasal dari festival seni tampilan layaknya opera, teater, musik ,yang bernama Edinburgh International Festival. EIF pertama kali digelar pada era paska perang dunia ke II, tepatnya Agustus-September 1947.

Di pinggir daerah utama EIF, munculah pertunjukan seni independen yang terpisah dari EIF itu sendiri. Pertunjukkan independen ini tidak kalah bersama dengan pertunjukan utama dan malah berhasil mengambil perhatian.

Lawakan Tunggal

Stand up comedy merupakan seni pertunjukan komedi yang ditunaikan oleh seorang penampil secara segera di atas panggung. Dalam bhs Indonesia, stand up comedy disebut sebagai lawakan tunggal. Lantas, bagaimana peristiwa stand up comedy di dunia dan di Indonesia dan juga siapa saja tokoh pendirinya? Lawakan tunggal atau stand up comedy biasanya ditunaikan oleh seorang penampil, tapi bisa terhitung berkelompok bersama dengan membawakan bit secara berkesinambungan.

Seorang pelaku stand up comedy dikenal bersama dengan sebutan komik atau komika, tak hanya disebut pula pelawak alias komedian dalam arti umumnya. Materi-materi dalam stand up comedy bermacam-macam, bisa mengenai keresahan, keseharian, pengalaman unik, mencandai orang lain, dan tetap banyak lagi. Materi yang ditampilkan biasanya ditulis sendiri oleh si komika walaupun ada pula yang membawakan materi lazim bersama dengan style masing-masing.

Stand up comedy punyai banyak ragam teknik dan beraneka arti tertentu yang tidak ditemui dalam lawakan tunggal konvensional, layaknya open mic, set-up, bit, roasting, punch line, act-out, close mic, call-back, rule of three, laugh per minute (LPM), dan seterusnya.Siapa Ramon Papana Pemilik Open Mic yang Digugat Stand Up Indo? Apa Itu Open Mic dalam Stand Up Comedy yang Diklaim Ramon Papana? Daftar Istilah Stand Up Comedy: dari

Open Mic, Bit hingga Roasting Sejarah Stand Up Comedy di Dunia Menurut Safinatun Naja dalam risetnya berjudul “Kritik Sosial dalam Stand Up Show Special Mesakke Bangsaku” (2018), stand up comedy berakar dari seni pertunjukan Amerika Serikat pada abad ke-18. Pada era itu, dikenal sebuah konsep pertunjukan yang ditunaikan dalam tiga babak. Konsep tersebut diperkenalkan oleh sebuah kelompok teater Amerika era itu bernama Vaudeville. Cikal dapat stand up comedy berawal dari babak kedua pertunjukan tiga babak tersebut.

Seorang penampil jalankan monolog sehabis sajian musik pada babak pertama selesai. Baru kemudian, lebih kurang era 1920 hingga 1960-an, terlihat para komedian layaknya Milton Berle, Henry Youngman, Jack Benny, dan Bob Hope yang mengadopsi cara lawak ala Vaudeville dan membawanya ke dalam format yang baru dan juga fresh pada masanya.

Penelitian Dotan Oliar bertajuk “There’s No Free Laugh (Anymore): The Emergence of Intellectual Property Norms and the Transformation of Stand-Up Comedy” dalam jurnal The Virginia Law Review (2008) mengungkapkan, pelawak-pelawak tersebut telah mempunyai pertunjukan stand up comedy ke era baru yang lebih modern.

Menurut Dotan Oliar, format lawakan yang dibawa oleh para komedian terhitung permainan kata, candaan yang berupa fisik, hingga serangkaian lelucon yang dihubungkan melalui sebuah narasi tematik. Kesuksesan pertunjukan stand up comedy di Amerika Serikat itu sesudah itu menjalar ke beraneka wilayah di banyak negara, keliru satunya Indonesia.

Ratmi B-29 Menjadi Pelawak Setelah Revolusi Tak Ada Lagi Profil Eddy Gombloh Pelawak Senior yang Sudah Tutup Usia Mengenal Ali Nurdin Komedian Senior Guru Lawak Eko Patrio Sejarah Stand Up Comedy di Indonesia Indonesia sebetulnya telah mengenal konsep lawak tunggal sejak era 1970-an layaknya yang sering ditunaikan sejumlah pelawak dari Srimulat, Warkop DKI, hingga Sersan Prambors dan juga era setelahnya. Namun, selagi itu belum populer arti stand up comedy bersama dengan segala tekniknya.

Di Srimulat, misalnya, kita mengenal Gepeng yang sering memulai pertunjukan bersama dengan tampil dan beraksi sendiri. Hal sama terhitung pernah ditunaikan sejumlah bagian Srimulat lainnya macam Basuki, Asmuni, Timbul, Mamiek Prakoso, dan seterusnya. Warkop DKI, tak hanya dikenal luas melalui film-filmnya, sebetulnya terhitung menerapkan praktek lawak tunggal ketika pentas di atas panggung. Sama layaknya Srimulat, baik Dono, Kasino, maupun Indro beberapa kali memulai pertunjukan bersama dengan melawak tunggal.

Demikian pula bersama dengan Sersan Prambors. Grup lawak mahasiswa pada era 1980-an yang digawangi oleh Sys NS Pepeng, Nana Krip, Muklis Gumilang, dan Krisna Purwana terhitung tidak jarang menampilkan aksi lawakan tunggal. Kepopuleran stand up comedy di Indonesia merasa menarik perhatian publik pada 2011 bersama dengan lahirnya Komunitas Stand Up Comedy Indonesia yang digagas oleh Ernest Prakasa, Ryan Adriandhy, Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, dan Isman H. Suryaman.

Dari situlah sesudah itu terlihat sejumlah kompetisi komedi tunggal layaknya SUCI, SUCA, Liga Komunitas, dan lain sebagainya, yang pada selanjutnya melahirkan komika-komika populer dan ikut meramaikan industri hiburan di tanah air. Sebenarnya, sebelum akan Komunitas Stand Up Comedy Indonesia dibentuk pada 2011, di beberapa titik di Jakarta telah terhubung panggung stand up comedy yang keliru satunya dipelopori oleh Ramon Papana. Baca juga: Anggota Srimulat: Sejarah, Nama Pendiri, dan Kariernya Wafatnya Rudy Badil & Sejarah Pendiri Warkop DKI vs Orde Baru Komedian Inisial M Marshel Widianto: Profil dan Kasus Dea OnlyFans Daftar Komika Stand Up Comedy Indonesia Kepopuleran Ernest Prakasa, Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan lainnya bermula ketika mereka open mic di Comedy Cafe, Jakarta.

Penampilan mereka direkam sesudah itu diunggah ke YouTube. Comedy Cafe adalah sebuah kafe yang mengusung komedi sebagai konsep yang telah menampilkan pertunjukan stand up comedy sejak 1997. Ramon Papana merupakan tokoh di balik kafe tersebut. Kini, berdirinya Stand Up Indo yang diikuti munculnya beraneka komunitas stand up di banyak daerah, terhitung meriahnya ajang kompetisi stand up comedy layaknya Stand Up Comedy Show, SUCI, SUCA, dan lainnya, bermunculan para komika berhasil di ranah hiburan tanah air.

Banyak komika yang kini raih kepopuleran, baik via televisi maupun YouTube, dari Raditya Dika, Panji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Ryan Adriandhy, Cak Lontong, Abdel Achrian, Temon Templar, Mo Sidik, Akbar, Soleh Solihun, Adriano Qalbi, Kemal Palevi, Arief Didu, Mongol Stres, hingga Ge Pamungkas. Berikutnya ada Boris Bokir, Gilang Bhaskara, Daned Gustama, Jui Purwoto, Sammy Notaslimboy, McDanny, Babe Cabita, Muhadkly Acho, Tretan Muslim, Coki Pardede, Pras Teguh, Uus, Arie Kriting, Adjis Doa Ibu, Awwe, Bintang Timur, Arif Alfiansyah, Popon Kerok, Heri Hore, dan juga Dodit Mulyanto. Ada pula Indra Jegel, Lolox, Mamat Alkatiri, Nopek Novian, Indra Frimawan, Arafah Rianti, Abdur Arysad, Hifdzi Khoir, Dzawin Nur, Kiki Saputri, Ridwan Remin, David Nurbianto, Aci Resti, Fico Fachriza, Ananta Rispo, Marshel Widianto, Rigen Rakelna, Bintang Emon, Oki Rengga, Bene Dion, Coky Anwar, Boah Sartika, Ebel Cobra, dan tetap banyak lagi.

Proudly powered by WordPress | Theme: Journey Blog by Crimson Themes.
error: Content is protected !!