Tradisi Timur Tengah yang Terdaftar di Unesco

Timur Tengah dan Afrika Utara adalah wilayah yang kaya dapat warisan budaya bersama dengan banyak normalitas dan praktik yang jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ketika dunia jadi lebih mengglobal dan tren budaya jadi lebih seragam, sejumlah normalitas terasa menghilang.

Badan kebudayaan PBB, Unesco udah berusaha sbobet untuk memelihara praktik-praktik spesifik bersama dengan menambahkannya ke Daftar Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan, bersama dengan harapan bahwa hal itu dapat menyoroti pentingnya praktik-praktik tersebut dan mendorong pelestariannya.

Di lansir dari Middle East Eye, Unesco menentukan normalitas Timur Tengah yang udah masuk di dalam daftar dan konsisten jadi bagian dari lapisan budaya kawasan itu.

1. Majelis

Jika Anda pernah diundang ke sebuah majelis  barangkali besar Anda adalah orang yang terlalu dihormati dan dihargai. Majelis adalah daerah daerah duduk, yang secara tradisional berkarpet dan memiliki bantal di lantai untuk bagian komunitas duduk.

Teh atau kopi Arab dapat disuguhkan untuk menjamu para anggota majelis dalam penuturan sepanjang malam. Di sebagian bagian wilayah, majelis termasuk diselenggarakan di luar ruangan, bersama dengan api unggun yang menyala di sedang untuk menghangatkan badan.

Konsep Majelis pada awalannya dimaksudkan untuk terlalu mungkin masyarakat setempat berkumpul dan mendiskusikan hal-hal yang menyangkut atau berdampak pada mereka. Ini termasuk merupakan daerah di mana Anda mampu terima tamu, bersosialisasi, dan dihibur.

Fungsi majelis senantiasa serupa sepanjang berabad-abad, yakni untuk mengadakan pernikahan, menyelesaikan persoalan dan mendiskusikan berbagai urusan. Saat ini, majlis termasuk digunakan untuk menyelenggarakan acara dan kompetisi puisi serta hiburan gampang layaknya konser dan pesta skala kecil.

Sebuah majelis senantiasa jadi bagian perlu dari budaya Timur Tengah, terlebih gara-gara bermanfaat sebagai ruang di mana warisan lisan dan ilmu diturunkan. Anak-anak kerap menemani orang tua mereka ke majelis, terlalu mungkin mereka untuk jadi akrab bersama dengan normalitas dan mengerti nilai-nilai masyarakat.

2. Budaya dan Tradisi Kopi Turki

Kopi dianggap terlalu nyata-nyata di Turki. Proses membuat, menuangkan, dan meminumnya diatur oleh ketetapan dan kebiasaan, yang sebagian besar senantiasa serupa sepanjang berabad-abad. Kopi termasuk memainkan peran perlu di dalam pernikahan, acara sosial dan pertemuan.

Hampir tiap-tiap daerah di Turki mengkonsumsi kopinya secara berbeda. Sebagian besar di sajikan di dalam cangkir kecil, bersama dengan segelas air yang menyertainya. Beberapa ada yang menentukan untuk meminumnya bersama dengan tambahan susu, ada termasuk yang di sajikan pahit, dan sebagian lainnya diberikan sedikit gula.

Mula-mula biji kopi perlu ditumbuk halus dicampur bersama dengan air dan sedikit gula di dalam cezve atau kanaka, yakni panci tembaga atau kuningan yang digunakan untuk menyeduh minuman di atas kompor. Kemudian diaduk perlahan hingga lapisan busa tidak tebal terlihat di atasnya. Busa kopi lantas dipindahkan ke cangkir, bersama dengan sisa kopi dituangkan di atasnya langsung setelah itu.

Baca juga:

5 Destinasi Wisata Budaya Populer di Indonesia

Wisata Budaya Jogja yang Terkenal dan Wajib Dikunjungi

Dalam sebagian normalitas pernikahan Turki, seorang calon pengantin dapat menguji temperamen calon suaminya bersama dengan menyajikan secangkir kopi penuh garam. Jika dia mampu meminumnya tanpa ketidaksenangan yang jelas, diasumsikan bahwa dia pemarah, dan gara-gara itu, pria yang baik untuk dinikahi.

Penikmat kopi mampu menentukan untuk menyeduh kopi mereka di pasir panas, gara-gara sementara penyeduhan yang lebih lama menambah rasa. Bagian perlu lain dari budaya kopi di Turki adalah pakai sisa-sisa kopi bubuk untuk meramal. Tradisi ini udah diturunkan secara turun-temurun melalui bagian keluarga. Budaya dan tradisi kopi Turki ditambahkan ke daftar warisan takbenda Unesco pada 2013.

3. Budidaya Mawar Damaskus

Rosa damascena, pertama kali diperkenalkan ke Eropa dari Damaskus pada pertengahan abad ke-12 oleh Tentara Salib yang kembali. Kamudian pada abad ke-16 dan seterusnya, produksi bunga mawar konsisten berkembang.

Keluarga bangun pagi-pagi dan pergi ke ladang untuk memetik bunga mawar, lantas menyortirnya. Beberapa kelopak dikeringkan untuk teh, yang lain disimpan bersama dengan hati-hati untuk disuling.

Bunganya, yang memiliki kelopak merah muda halus, dikenal di semua dunia, dan diekspor dan dijual kepada pembuat parfume. Kelopak mawar termasuk dibuat jadi minyak esensial, kosmetik, dan air mawar.

Banyak perempuan Damaskus berkumpul di desa untuk menyebabkan selai, sirup, dan kue kering pakai bunga mawar yang dipanen. Beberapa yakin bunga mawar memiliki karakter menenangkan.

Mawar Damaskus adalah sumber kebanggaan bagi warga Suriah, terlebih mereka yang terlibat di dalam panen dan produksinya. Namun, konflik bertahun-tahun di negara itu udah memukul industri bersama dengan keras, menyebabkan banyak orang prihatin bersama dengan nasib normalitas yang udah lama dipegang.

Pada 2019, Unesco memasukkan budidaya mawar Damaskus kedalam daftar warisan tak benda.

4. Hikaye Palestina

Hikaye atau dongeng adalah normalitas narasi yang udah dipraktikkan oleh wanita Palestina sepanjang berabad-abad. Biasanya, hikaye diceritakan di rumah sepanjang malam musim dingin atau di pertemuan sosial, mengumpulkan wanita dan anak-anak.

Cerita-cerita yang sebagian besar fiktif, kerap mencerminkan zeitgeist, mengeksplorasi tema-tema layaknya isu-isu sosial kontemporer, dinamika keluarga dan imperatif moral. Pembicara dapat kerap memiliki suara ekspresif yang kuat, yang mencengkeram audiens dan menyebabkan mereka menyimaknya sepanjang berjam-jam.

Tradisi hikaye ini adalah kesempatan bagi perempuan Palestina untuk memberi tambahan perspektif mereka mengenai isu-isu dan mengeksplorasi keprihatinan mereka. Beberapa dapat menawarkan kritik pada masyarakat, tetapi yang lain dapat melukiskan kesulitan.

Hikaye termasuk digunakan sebagai langkah untuk merekam dan mewariskan peristiwa dan pengalaman warga Palestina, terlebih mengupas pengaruh pendudukan dan perpindahan paksa.

Dengan munculnya media sosial, serta gejolak yang berkesinambungan sebagai akibat dari pendudukan Israel, normalitas tersebut dipraktikkan lebih sedikit. Namun, banyak wanita saat ini menyebabkan upaya mengerti untuk memunculkan lagi bentuk mendongeng, bersama dengan cerita yang diceritakan di dalam dialek Palestina-Arab, terlebih senantiasa hidup oleh para tetua.

Pada th. 2008, Unesco memberi tambahan praktik tersebut ke daftar warisan takbendanya.

5. Tahtib Mesir

Tahtib merupakan seni bela diri adu tongkat yang diyakini berasal dari zaman Firaun, ketika digunakan sebagai bagian dari pelatihan militer. Namun, sepanjang bertahun-tahun, praktik ini jadi lebih seremonial dan dilaksanakan di pesta pernikahan dan acara olahraga.

Tahtib melibatkan dua orang, tiap-tiap memegang tongkat, saling bertarung, bersama dengan tujuan memukul kepala lawan. Seiring berjalannya waktu, para wanita termasuk terasa berpartisipasi di dalam tahtib, kendati awalannya merupakan olahraga spesifik pria.

Inti dari seni bela diri adalah nilai-nilai memelihara saling menghormati, persahabatan, keseimbangan dan kebanggaan. Saat ini, tahtib kebanyakan dilaksanakan bersama dengan latar musik suara tabla baladi (gendang tradisional) dan puisi.

Klub dan pusat olahraga, yang fokus pada pelestarian seni, udah dibuka di semua Mesir di dalam sebagian th. terakhir. Festival nasional untuk tahtib termasuk diselenggarakan tiap-tiap th. di negara ini.

Bahkan ada yang mengkampanyekan sehingga tahtib jadi olahraga yang dianggap dunia internasional. Praktik ini ditambahkan ke daftar Unesco pada 2016.

error: Content is protected !!